Kondisi kering di wilayah daratan Indonesia setelah kekeringan akibat El Niño (El Nino, Climate Change and the Effect on Indonesia
Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Artikel ini merupakan karya Nikkia Kohn, Peserta Magang Internasional Green Moluccas 2026
El Niño, yang juga disebut *El Niño Southern Oscillation* (ENSO), merujuk pada pola cuaca yang disebabkan oleh pemanasan permukaan laut atau suhu permukaan laut yang berada di atas rata-rata, di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini terjadi setiap 2 - 7 tahun sekali dan dapat menyebabkan kekeringan parah serta kebakaran hutan di Indonesia. Oleh karena itu, curah hujan dapat berbeda dari tahun ke tahun. Pada tahun 2026, terdapat kemungkinan besar terjadinya peristiwa El Niño, yang akan menyebabkan penurunan curah hujan pada tahun tersebut.
Dalam kondisi normal, air hangat bergerak dari Amerika Selatan menuju Asia, kemudian air dingin menggantikan posisi air hangat tersebut. Saat terjadi El Niño, kondisi ini berbalik; air hangat bergerak dari Asia menuju Amerika Selatan.
Grafik yang menggambarkan kondisi pergerakan air selama El Niño (Borneo Nature Foundation)
El Niño mempengaruhi pola cuaca di seluruh dunia, mulai dari Asia Tenggara hingga Amerika. Peristiwa ini terjadi setiap 2 - 7 tahun; kejadian terakhir berlangsung dari tahun 2023 hingga 2024. Biasanya, fenomena ini berlangsung selama rata-rata 9 - 12 bulan, namun bisa juga bertahan hingga bertahun-tahun. Kejadian ini dapat diprediksi berdasarkan suhu air; peningkatan suhu laut yang signifikan dapat menjadi tanda kuat bahwa El Niño akan terjadi pada tahun tersebut. Dalam hal ini, wilayah Pasifik tropis memegang peranan penting dalam menentukan apakah El Niño akan terjadi, melalui pemantauan suhu air di negara-negara seperti Indonesia. Suhu laut bisa mencapai tingkat hingga 6 derajat Celcius lebih hangat daripada rata-rata.
Pada tahun 2026 ini, terdapat peluang sebesar 80% terjadinya El Niño yang \"sangat kuat\", yang berpotensi menyebabkan kekeringan parah dan suhu udara yang lebih hangat. Peluang terjadinya fenomena ini meningkat hingga 90% pada bulan November. Jadi, jika Anda merasa curah hujan lebih sedikit pada musim ini, hal tersebut bisa jadi disebabkan oleh terjadinya El Niño.
El Niño dapat menyebabkan kekeringan parah dan kebakaran hutan di wilayah Pasifik tropis. Sebaliknya, kondisi cuaca yang berlawanan, yaitu La Niña, menyebabkan curah hujan tinggi dan risiko banjir di wilayah Pasifik tropis. Peristiwa La Niña terakhir bermula pada tahun 2025 dan berakhir pada Februari 2026. Sementara itu, peristiwa La Niña sebelumnya merupakan kejadian yang memecahkan rekor karena berlangsung selama tiga tahun, yakni dari tahun 2020 hingga 2023. Jadi, jika Anda menengok kembali tahun lalu serta beberapa tahun sebelumnya dan mendapati curah hujan yang tinggi, kemungkinan besar hal itu disebabkan oleh peristiwa La Niña tersebut.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa peristiwa El Niño di Indonesia semakin parah dalam 20 tahun terakhir. Indonesia memiliki riwayat dampak El Niño yang signifikan. Pada tahun 2015, terjadi peristiwa El Niño yang kuat yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih ekstrem di Indonesia. Hal ini mengakibatkan kabut asap beracun akibat pembakaran lahan perkebunan menyebar hingga ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura, serta menyebabkan lebih dari setengah juta kasus infeksi saluran pernapasan.
Dampak lain dari peristiwa El Niño yang parah di Indonesia mencakup masalah kebakaran hutan dan lahan akibat kondisi kemarau yang ekstrem. Selain kebakaran dan dampak kesehatan, para ahli memperingatkan bahwa El Niño juga dapat mengancam produksi pangan Indonesia.
Grafik yang menggambarkan pola curah hujan selama peristiwa El Niño, yang menunjukkan kondisi di Indonesia lebih kering daripada biasanya. Sumber: Lenssen, N. J. L., L. Goddard, and S. Mason, 2020: Seasonal Forecast Skill of ENSO Teleconnection Maps. Wea. Forecasting, 35, 2387–2406, https://doi.org/10.1175/WAF-D-19-0235.1
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, El Niño menyebabkan kekeringan parah dan cuaca kering; jadi, jarang sekali terjadi kondisi tanpa hujan sama sekali selama peristiwa El Niño. Sebaliknya, yang lebih mungkin terjadi adalah penurunan curah hujan hingga lebih dari 40%. Namun, seiring dengan semakin besarnya masalah pemanasan global, muncul kekhawatiran akan terjadinya peristiwa El Niño yang lebih ekstrem, yang memicu kekeringan lebih parah dan kebakaran hutan berskala besar. Jika El Niño yang cukup kuat terjadi pada tahun 2026, para ahli memprediksi bahwa suhu udara bisa mencapai rekor tertinggi pada tahun 2027.
Meskipun El Niño merupakan pola cuaca global, baik El Niño maupun La Niña akan selalu terjadi. Akan tetapi, kita berpotensi mengendalikan intensitas peristiwa-peristiwa tersebut dengan mitigasi pemanasan global. Saat ini, belum ada bukti yang cukup untuk memastikan bahwa pemanasan global menyebabkan peristiwa ini terjadi lebih sering, meskipun terdapat bukti yang menunjukkan bahwa tingkat keparahan peristiwa tersebut meningkat seiring dengan pemanasan global. Hal ini berarti kita dapat membantu mengurangi dampak kekeringan dan banjir parah dengan cara mengurangi kontribusi kita terhadap pemanasan global. Namun, bagaimana cara kita mengurangi dampak tersebut? Kontribusi individu terhadap pemanasan global disebut sebagai \"jejak karbon\" (*carbon footprint*), yaitu jumlah karbon berlebih yang dilepaskan seseorang ke lingkungan. Tindakan individu yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi \"jejak karbon\" antara lain menghindari penggunaan plastik sekali pakai, tidak membakar plastik maupun bahan bakar fosil, mengomposkan sisa makanan, serta membuat kebun sendiri. Tindakan-tindakan ini mungkin terlihat kecil, namun dapat menginspirasi perubahan besar dalam upaya mengatasi pemanasan global, terutama karena pemanasan global mempengaruhi banyak aspek dunia kita yang terkadang tidak terlihat secara kasat mata.
Kita dapat turut membawa perubahan dengan mengurangi jejak karbon, meminimalkan penggunaan plastik, serta mencegah pembakaran plastik dan bahan bakar lainnya. El Niño adalah pola cuaca yang akan terus terjadi, namun kita dapat membantu mengurangi tingkat keparahan dampaknya. Hal ini sangat penting mengingat Indonesia menghadapi dampak berat akibat El Niño, termasuk kekeringan ekstrim dan kebakaran hutan berskala besar. Jika Anda bertanya-tanya mengapa hujan hampir tidak turun dalam satu musim, cobalah cari tahu apakah El Niño sedang terjadi pada musim tersebut!
Mulai dari diri sendiri,
Mulai dari hal kecil,
Mulai dari sekarang.
Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Kalesang lingkungan par ana cucu
Referensi:
https://www.ums.ac.id/en/news/global-pulse/el-nino-climate-change-and-the-effect-on-indonesia
https://oceanservice.noaa.gov/facts/ninonina.html
https://www.usgs.gov/faqs/what-el-nino-and-what-are-its-effects
https://wmo.int/news/media-centre/wmo-prepare-el-nino
