Photo by Héctor Mavare on Unsplash
Isu perubahan iklim yang sedang ramai diperbincangkan saat ini memiliki dampak langsung ke dalam kehidupan manusia. Perubahan iklim yang terjadi memengaruhi berbagai sektor kehidupan diantaranya kelautan, pertanian, kesehatan, hingga kerusakan lingkungan. Perubahan iklim dipicu oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O) yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Berbagai upaya mitigasi sering diserukan dengan tujuan untuk mengurangi atau mencegah emisi gas rumah kaca seperti beralih ke energi terbarukan, reboisasi, melakukan pengelolaan sampah berkelanjutan, dan lain sebagainya. Salah satu upaya mitigasi perubahan iklim secara alami adalah dengan melindungi dan melestarikan blue carbon.
APA ITU BLUE CARBON?
Sumber: bluecarbonsociety.org
Blue carbon berbeda dengan green carbon yang merupakan penyerapan dan penyimpanan karbon oleh hutan darat seperti hutan hujan tropis, savana, maupun lahan gambut. Green carbon menyimpan karbon dalam biomassa tumbuhan di atas permukaan dan tanah, namun proses penyimpanannya lebih rentan terhadap aktivitas manusia seperti deforestasi, kebakaran, dan degradasi lahan yang dapat dengan cepat melepaskan karbon ke atmosfer secara cepat (Pan et al., 2011). Dengan demikian, meskipun kedua jenis ekosistem sama-sama berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim, ekosistem blue carbon memiliki keunggulan dalam menyimpan karbon jangka panjang dibandingkan ekosistem darat.
EKOSISTEM BLUE CARBON
Ekosistem pesisir yang dapat menyerap dan menyimpan karbon atau disebut dengan blue carbon adalah hutan mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut (Howard et al., 2014).
Ekosistem mangrove
Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim (Rahman et al., 2024). Mangrove mampu menyimpan karbon dalam jumlah yang signifikan baik di atas tanah (above-ground) maupun di bawah tanah (below-ground) (Alongi, 2014; Donato et al., 2011; 2012). Oleh karena itu, ekosistem mangrove memiliki kemampuan untuk menyerap karbon dari atmosfer serta juga menyimpan karbon hingga empat kali lebih banyak dibandingkan ekosistem lainnya, sehingga dapat mengurangi emisi karbon (Donato et al., 2012). Kemampuan mangrove menyimpan karbon yang tinggi ini menjadikan mangrove sebagai ekosistem penting dalam mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.
Padang lamun
Padang lamun adalah salah satu ekosistem laut dangkal yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan biota laut dan merupakan salah satu ekosistem bahari yang paling produktif. Setiawan et al., (2012) menyatakan bahwa potensi penyerapan karbon di ekosistem lamun akan berbanding lurus dengan luas area lamun, dimana semakin luas area lamun di perairan maka potensi penyerapan akan semakin tinggi pula. Berdasarkan BRIN dalam Mongabay pada tahun 2023, padang lamun memiliki potensi dalam menyimpan karbon sekitar 600 ton per hektar dan memiliki manfaat sebagai penyedia habitat bagi beberapa spesies laut, sebagai penyerap karbon dari air laut ke atmosfer dan penyaring kualitas air dari partikel dan nutrient (Dina dan Vinata, 2018).
Rawa pasang surut
Rawa pasang surut merupakan ekosistem yang terbentuk dari tanaman berakar serabut yang tumbuh di daerah pasang surut. Ekosistem rawa pasang surut memiliki peran penting dalam siklus karbon global dengan memengaruhi proses kimia dalam air, seperti karbon organik dalam bentuk yang lebih stabil (Alongi et al., 2015). Rawa pasang surut memiliki fungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon di dalam tanah serta biomassa hidup dan mati dengan potensi penyimpanan karbon sangat tinggi yaitu sekitar 800 ton per hektar (Murdiyarso dan Donato, 2019). Tanah pada rawa pasang surut juga dapat menyimpan karbon dalam jumlah yang besar, lapisan lumpur di bawah rawa pasang surut dapat mengakumulasi karbon organik dari sisa-sisa tumbuhan dan organisme laut yang terdekomposisi (McLeod et al., 2011).
APA MANFAAT BLUE CARBON?
Ekosistem blue carbon memberikan beragam manfaat, baik dalam upaya mitigasi perubahan iklim maupun dalam aspek ekonomi. Ekosistem blue carbon memiliki kemampuan untuk menyerap karbon dioksida dari atmosfer dalam jumlah besar dan menyimpannya dalam jangka panjang. Karbon tersebut tersimpan di dalam tanah dan tumbuhan pada ekosistem mangrove serta lamun, dan dapat bertahan selama ratusan hingga jutaan tahun. Selain itu, potensi blue carbon dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi pemerintah dan masyarakat pesisir yang mengelola karbon secara bijak dan teregistrasi dalam bursa karbon melalui pasar karbon sukarela (Rahman et al., 2025)..
Sumber: Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan
Ekosistem blue carbon memiliki manfaat besar dalam kehidupan manusia. Namun, ekosistem ini menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia maupun perubahan lingkungan, yang berpotensi mengurangi kemampuannya menyimpan karbon.
Deforestasi dan konversi lahan
Hutan mangrove ditebang untuk berbagai kebutuhan seperti pembangunan pemukiman, infrasruktur, tambak, dan lain sebagainya. Konversi lahan ini menyebabkan karbon yang tersimpan dalam biomassa terlepas ke atmosfer dan mempercepat terjadinya perubahan iklim. Menurut Murdiyarso et al. (2015), konversi mangrove di Asia Tenggara dapat menghasilkan emisi karbon hingga 10 kali lebih tinggi dibandingkan deforestasi hutan daratan.
Pencemaran perairan
Ekosistem lamun mengalami ancaman berupa pencemaran perairan seperti tumpahan minyak, masuknya limbah domestik, maupun industri. Menurut Duarte et al. (2013), degradasi lamun global terutama disebabkan oleh polusi di daerah pesisir dan aktivitas manusia.
Pembuangan sampah sembarangan
Pembuangan sampah plastik menjadi ancaman nyata bagi ekosistem pesisir. Pada ekosistem mangrove, sampah plastik yang menutup akar napas akan menghambat respirasi mangrove, sehingga terancam mengalami kematian. Selain itu, keberadaan sampah plastik di padang lamun akan menutup penetrasi cahaya sehingga mengganggu proses fotosintesis.
Aktivitas pesisir yang merusak
Penambangan pasir, reklamasi, dan aktivitas perikanan yang tidak ramah lingkungan dapat mempercepat erosi sedimen serta merusak struktur ekosistem penyimpan karbon. Hal ini menurunkan kapasitas ekosistem dalam menyimpan karbon untuk waktu yang lama (Pendleton et al., 2012).
KESIMPULAN
Blue carbon merupakan aset penting dalam menghadapi perubahan iklim karena kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka panjang melalui ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut. Namun, keberadaan ekosistem ini terancam oleh deforestasi, pencemaran, pembuangan sampah, dan aktivitas pesisir merusak yang berpotensi mengubahnya dari penyerap karbon menjadi sumber emisi. Oleh karena itu, melestarikan ekosistem blue carbon bukan hanya strategi konservasi, tetapi juga langkah strategis dalam mitigasi perubahan iklim global.
Mulai dari diri sendiri,
Mulai dari hal kecil,
Mulai dari sekarang.
Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Kalesang lingkungan par ana cucu.
Referensi:
Alongi, dkk. 2015. Carbon Cycling and Storage in Mangrove Forest. Annual Review of Marine Science, 6(1) : 195-219.
Duarte, C. M., Losada, I. J., Hendriks, I. E., Mazarrasa, I., & Marbà, N. (2013). The role of coastal plant communities for climate change mitigation and adaptation. Nature Climate Change, 3(11), 961–968.
Howard, J., S. Hoyt, K. Isesnsee, E. Pidgeon, & M. Telszewski. 2014. Coastal blue carbon: Methods for assessing carbon stocks and emissions factors in mangroves, tidal salt marshes, and seagrasses. Conservation International, Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO, International Union for Conservation of Nature. Arlington, Virginia, USA. 180 p
Murdiyarso, D., & Donato, D. C. (Eds.). (2019). The blue carbon initiative: Conservation, restoration, and management of coastal carbon ecosystems. CRC Press.
Rahman, Ceantury A, Tuahatu JW, Lokollo FF, Supusepa J, Hulopi M, Permatahati YI Lewerissa A, Wardiatno Y. 2024. Mangrove ecosystem in Southeast Asia region: mangrove extent, blue carbon potential and CO2 emission in 1996-2020. Science of the Total Environment (STOTEN), 915(3): 1-12.